Berita Terkini
Solmadapar Adukan Polisi ke Komnas HAM
INILAH.COM, Pontianak - Solidaritas Mahasiswa Pengemban Aspirasi Rakyat (Solmadapar) mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Kantor Perwakilan Kalbar, Kamis (22/11).

Mereka menyampaikan tindakan represif aparat kepolisian saat membubarkan masa pengunjuk rasa. Karena mengakibatkan massa mengalami cidera fisik.
Kedatangan Solmadapar ikut membawa bukti laporan di Propam Polda dan Polresta Pontianak. Termasuk bukti surat pemberitahuan aksi kepada polisi dan hasil scan dokter di salah satu rumah sakit swasta Kota Pontianak.
Setiba di Kantor Komnas HAM Perwakilan Kalbar, mereka diterima langsung Kepala Sekretariat Komnas HAM Kantor Perwakilan Kalbar Kaspul Anwar. Dan menyatakan segera menindaklanjuti laporan dengan mengirim surat ke Kapolda Kalbar. Sekaligus meminta klarifikasi pihak kepolisian atas aduan yang telah disampaikan.
“Kami akan usut tuntas dan secepatnya akan menyampaikan (surat,red) ke Polda,” kata dia.
Salah seorang massa Solmadapar, Vito mengatakan, tujuh anggota Solmadapar mengalami cidera ketika aksi unjuk rasa 13 Desember lalu. Namun yang paling parah dialami Apit hingga pendarahan di hidung dan mulut. Karena itu, lanjut dia, pengaduan dilakukan atas tindakan represif pihak kepolisian dalam mengamankan aksi unjuk rasa.
Aksi unjuk rasa Solmadapar ketika itu mempertanyakan kinerja Polda Kalbar dalam mengusut kasus dugaan korupsi dana Bansos KONI. Karena dinilai tidak menunjukkan perkembangan. Sedangkan proses hukum sudah lama berjalan. Namun, belum lama aksi berlangsung aparat membubarkan massa pengunjuk rasa.
Vito menuturkan kepada Komnas Ham, pembubaran unjuk rasa dimulai ketika seorang anggota polisi menendang ban yang dibakar demonstran. Kemudian Solmadapar menendang untuk menjauhkan ban. Lalu aparat kembali menendang. Hingga terjadi pembubaran paksa. Dan tindakan tersebut dianggap represif. Sebab para pendemo menjadi sasaran pemukulan.
“Kami dipukul, padahal kami menggelar aksi damai. Pembakaran ban sebagai bentuk aksi simpatik terhadap Sondang yang membakar diri di depan istana Presiden,” ungkap Vito.
Hal senada diutarakan Apit. Meski sudah mengeluarkan darah tetap dipukuli. Pahadal, aksi yang digelar sama sekali tidak menimbulkan kemacetan seperti ditudingkan. Karena aksi berlangsung tidak di tengah jalan. Melainkan di trotoar yang biasa tempat kendaraan polisi lalu lintas parkir.
Menurut dia, dampak pukulan terasa satu hari setelah kejadian. Apalagi mukanya lebam. Jadi rasa nyeri begitu terasa. Dan, paling banyak demonstrasi mengalami luka memar.
“Ada yang memar di punggung,” ujarnya. [mor]
|
Mobile Read |
Publish : 23 Desember 2011 Penulis : Sindikasi
Editor : - Sumber : http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1810935/solmadapar-adukan-polisi-ke-komnas-ham |
Terakhir diperbaharui (Sabtu, 07 January 2012 21:45)
























