ࡱ> 3^( / 0LDArial$0z[ 0"@ .  @n?" dd@  @@`` <!       0AA f33@3ʚ;ʚ;g48d8d z[ 0ppp@ <4ddddL 0 80___PPT10 pp?  %LZ Tesis #1 Demokrasi adalah sebuah konsepsi politik dan sekaligus praktik sosial yang berkembang melalui sebuah proses sejarah yang panjang yang merepresentasikan sebuah dialektika di antara teks dan konteks. Oleh karena itu, sebagai sebuah institusi, demokrasi adalah representasi dari sebuah siklus di antara pengalaman tekstual, pengalaman struktural, dan pengalaman kultural. Isu-isu Problematis: Kegagalan dalam memahami pentingnya konteks dari mana teks itu dilahirkan menghasilkan penafsiran dan praktik yang kadang menyesatkan; Demokrasi memerlukan kontekstualisasi yang memungkinkan berbagai prinsip yang bersifat universal itu dapat diperkaya, diperkuat, dan dibumikan oleh berbagai  pengaturan dan  keteraturan yang bersifat partikular dan lokal. Tidak semua yang bersifat partikular dan lokal selalu bersesuaian dengan yang ajaran universal demokrasi. Untuk memungkinkan demokrasi  bekerja pada tingkat individual, diperlukan sebuah transformasi di tiga tingkat yang berbeda secara penuh: pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Dalam periode transisi, kesenjangan di antara ketiganya kerap sangat lebar.fPP 33  33t333333B ! r!! P Tesis #2 Demokrasi adalah sebuah sistem politik yang mengintegrasikan cara (means), tujuan (goals), dan nilai-nilai (values) sebagai tiga entitas yang tidak terpisahkan  MGV s Sebagai cara, mekanisme, prosedur, atau protokol, demokrasi berkenaan dengan berbagai pilihan rasional tentang bagaimana individu atau kelompok mengorganisasikan cara (-cara) yang relevan untuk pencapaian sebuah atau lebih tujuan: dialog, musyawarah, demonstrasi, pawai, rapat akbar, menulis petisi, menulis  surat pembaca , mengirim protes adalah beberapa contohnya. Sebagai tujuan, demokrasi berkaitan dengan pencapaian keadilan dan kemakmuran (justice and prosperity); Sebagai nilai-nilai dan etika, demokrasi berhubungan dengan pengikatan diri terhadap sejumlah nilai utama, di antaranya yang terpenting adalah non-violence, freedom and equality, pluralism, human rights, multiculturalism; Isu Problematis: Di Indonesia, terdapat kecenderungan yang kuat untuk menekankan demokrasi pertama-tama dan bahkan melulu sebagai cara daripada juga sebagai tujuan dan nilai-nilai. Kerapnya demonstrasi dan demonstrasi yang juga melibatkan kekerasan menghasilkan kepercayaan yang meremehkan manfaat demokrasi. PP;P 33H3333 333333333333333333O333333*33 !!!! !$! Tesis #3 Transisi demokrasi akan selalu ditandai dengan berlangsungnya empat agenda utama berikut ini: Pertama, penegasan tentang pemisahan dan pembagian kekuasan di antara lembaga judisial, eksekutif, dan legislatif (YEL). Walaupun terdapat beberapa varian tentang bagaimana tiga lembaga negara ini diatur, pada dasarnya pemisahan kekuasaan itu bermaksud untuk mencegah terjadinya pemusatan kekuasaan di satu lembaga, atau orang bahkan. Dengan argumentasi semacam itu, dipercaya akan terjadi proses saling mengawasi sehingga kekuasaan akan memang dan sungguh digunakan untuk kemaslahatan kehidupan bersama. Isu-isu Problematis: Walaupun ajaran Trias Politica secara relatif memberikan definisi yang cukup jelas, dalam praktiknya di Indonesia pembagian mandat dan otoritas di antara ketiga lembaga itu lebih banyak ditentukan oleh negosiasi politik dan sejumlah asumsi kultural yang tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran asalinya. Tidak tersedianya pemahaman yang memadai tentang faham-faham dasar yang yang terkait dengan konstitusionalisme menyebabkan terjadinya keganjilan dalam pewacanaan publik dan pelembagaan ajaran demokrasi dalam konteks Trias Politica di Indonesia. P%PP33_3333 33333333333333 33333333p!`!!!4! Tesis #3 Transisi demokrasi akan selalu ditandai dengan berlangsungnya empat agenda utama berikut ini (lanjutan): Kedua, pembagian kekuasaan di antara pemerintah pusat, regional, dan lokal. Distribusi atau re-distribusi kekuasaan semacam ini, yang di Indonesia sering lebih dikenal dengan  otonomi daerah itu, pada dasarnya digerakkan oleh motif pengaturan kekuasaan yang lebih adil di samping pemikiran-pemikiran yang lebih pragmatis seperti efisiensi dan kemasukakalan. Isu-isu Problematis:  Otonomi daerah menjadi sebuah agenda transisi yang terpisah, terlepas, dari rasionalitas demokrasi;  Otonomi daerah menciptakan sejumlah praktik politik lokal yang  ganjil ,  aneh ,  kontradiktif , dan  paradoksikal : berorientasi pada elite daripada massa; mendorong fenomena  local boss politics , meluasnya korupsi dan misuse/abuse of power; dan bahkan menghasilkan politik identitas yang mengancam tidak saja HAM dan pluralisme namun juga multikulturalisme. PP33^33333333 33c333333333333v33X !i!g!!  Tesis #3 Transisi demokrasi akan selalu ditandai dengan berlangsungnya empat agenda utama berikut ini (lanjutan): Ketiga, pembagian kekuasan atas apa yang menjadi wilayah yurisdiksi negara (state) dan apa pula yang menjadi wilayah yurisdiksi masyarakat (civil society). Negara memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai pengaturan yang berkenaan dengan kehidupan bersama, dan, bila mana perlu, dapat menggunakan kekuatan paksa (coercive power) untuk menegakkan prinsip-prinsip yang diakui dalam kehidupan bersama itu. Sering disebut, negara mengurus wilayah publik sementara masyarakat mengurus wilayah privat dan inter-privat. Masyarakat, oleh karena itu, memiliki, memelihara dan mengendalikan sepenuhnya berbagai ruang dan inter-relasi privat yang berkaitan dengan sistem produksi dan re-produksi biologis (misalnya perkawinan), sosial (misalnya pendidikan), ekonomi (misalnya pertukaran barang dan jasa), dan budaya (misalnya sistem kepercayaan dan adat). Walaupun di antara dua wilayah itu terjadi interaksi, dan oleh karena itu keduanya tak sepenuhnya terisolasi satu terhadap yang lain, dapat dikatakan masing-masing memiliki wilayah yang relatif otonom. Isu Problematis: Dalam praktiknya di Indonesia, terdapat kekaburan dan bahkan mungkin pengaburan batas wilayah publik dan privat. Selama hampir sepuluh tahun proses transisi ini, terdapat kecenderungan di antara keduanya untuk melampaui batas otoritas atau tidak melakukan kewajiban yang diharuskan oleh otoritas masing-masing. P33^33333333 333333D3333;33 3333333333;3333n !i!!!6!  lTesis #3 Transisi demokrasi akan selalu ditandai dengan berlangsungnya empat agenda utama berikut ini (lanjutan): Keempat, terjadinya proses pemisahan yang kian jelas di antara hak-hak individu dan kewajiban-kewajiban individu atas kehidupan komunal. Tersedianya kebebasan untuk berekspresi menurut keyakinan-keyakinan individual daripada pertama-tama atau semata-mata menurut keyakinan komunal merupakan satu proses sosial penting yang terjadi dalam transisi menuju masyarakat yang kian kompleks, plural dan demokratis. Keabsahan hak-hak komunal atas individu selain dilakukan berdasarkan prinsip kesukarelaan juga tidak boleh berakibat pada dikurangkannya hak-haknya sebagai warga negara yang merdeka dan setara dan atau berakibat pada dihilangkannya, sebagian atau keseluruhan, kemampuannya dalam membuat keputusan berdasarkan prinsip self-determination. Isu Problematis: Ciri tradisional dalam masyarakat majemuk yang di antaranya menekankan kesetiaan dan kepatuhan tanpa batas terhadap adat, kepercayaan, dan tradisi kerap menyebabkan hilangnya kemerdekaan dan kesetaraan individu dalam kehidupan komunalnya. mP33^33333333333333333333 !i!!!! !!  VTesis #4 Demokrasi berevolusi dari awalnya yang hanya berhubungan dengan  ihwal memerintah di tingkat negara (state) menuju ke wilayah yang juga berhubungan dengan  ihwal bertingkah dalam masyarakat (civil society) dan  ihwal pengaturan produksi dan distribusi barang dan jasa di lingkungan pasar. Implementasi demokrasi di masing-masing  wilayah memiliki masalah dan tantangan yang walaupun mungkin berhubungan namun dapat dibedakan secara distingtif. Isu Problematis: Secara umum, kita memiliki akumulasi pengetahuan dan best practices yang memadai untuk mengenali masalah-masalah mendasar dan mendorong perubahan di wilayah negara yang tercakup dalam konsepsi dan ageneda aksi  political reforms . Sebaliknya, kita tidak mempunyai modal pengetahuan dan pengalaman yang dapat dibandingkan untuk mendorong terjadinya transformasi sosial di tingkat masyarakat. Sementara itu, terdapat kecenderungan ideologis yang kuat yang memandang program  liberalisasi pasar sebagai agenda yang terpisah dan harus dipisah dari proses demokratisasi di Indonesia.,P33f33333333T33 3333333333;33333333b33n !!! !E!   Tesis #5 Implementasi demokrasi berbasis hak asasi manusia (human rights based democracy) memprasyaratkan hadirnya negara dengan otoritas dan mandat yang kuat dalam melindungi, membela, dan mempromosikan hak asasi manusia. Isu Problematis: Dalam sepuluh tahun transisi demokrasi di Indonesia, otoritas dan mandat negara dalam melindungi, membela, dan mempromosikan hak asasi manusia sebagaimana dijamin oleh undang-undang dasar banyak dihalangi oleh melemahnya fungsi dan wibawa negara, oleh ketiadaan elemen-elemen strategis yang memadai di tingkat civil society untuk menjamin pluralisme, toleransi, dan multikulturalisme, serta tiadanya mekanisme yang efektif untuk memastikan terjadinya pertukaran barang dan jasa berdasarkan prinsip-prinsip pasar yang bebas dan adil.P333333333333333<333333n !!! !!   Tesis #6 Perkembangan demokrasi di suatu negara merupakan fungsi dari berbagai tindakan baik yang disadari maupun tidak (acknowledged and unacknowledged actions) dan telah menghasilkan sejumlah konsekuensi baik yang dimaksudkan begitu maupun tidak (intended and unintended consequences). Isu-isu Problematis: Kegagalan, sekurang-kurangnya ketidakcermatan, dalam mengindentifikasikan acknowledged and unacknowledged actions serta intended and unintended consequences mengaburkan penilaian yang jernih terhadap capaian kolektif (collective achievements) di negeri ini selama sepuluh tahun terakhir ini, dan telah menyebabkan bercampuraduknya keputusasaan dan kepercayaan yang berlebihan kepada jalan pintas sebagai jalan keluar dalam menciptakan masa depan yang lebih baik itu. unacknowledged actions dan unintended consequences yang dihasilkan oleh perkembangan selama sepuluh tahun terakhir ini telah mendorong berkembangnya kepercayaan bahwa demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia lebih banyak menghasilkan halangan dan bahkan ancaman terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. F;P P33p33'33Y33$333333K33(3333%33=333333333333333333B !!5!  Tesis #7 Demokrasi hanya mungkin menghasilkan sistem politik yang stabil dan berkelanjutan apabila perkembangan dalam setiap tahapnya ditandai oleh hadirnya keseimbangan di antara keluasan partisipasi (quantity of partisipation) dan kualitas wacana (quality of discourse) tentang demokrasi dan kaitannya dengan HAM, pluralisme, multikulturalisme, dan sejumlah tema strategis lainnya seperti kebebasan dan keadilan, gender, dan lingkungan hidup. Isu-isu Problematis: terdapat kecenderungan yang kuat di Indonesia untuk secara berlebihan menggunakan indikator kuantitas partisipasi sebagai ukuran kemajuan demokrasi dengan ongkos kian berkurangnya ruang bagi pengembangan wacana demokrasi. Pengutamaan pada kuantitas partisipasi telah mengakibatkan tersingkirnya perdebatan intelektual tentang isu-isu strategis di sekitar demokrasi dan tema-tema relevan lainnya. Arah dan perkembangan demokrasi di masa depan dapat secara serius terancam oleh rejim mayoritas yang dihasilkan oleh proses-proses yang difasilitasi oleh keluasan partisipasi. P=P3333333333333333333333>33B !!R!  FTesis #8 Berkembangnya kepercayaan secara berlebihan terhadap kekhususan (specifity) dan keunikan (uniqueness) yang melekat dalam konstruksi politik tentang Indonesia dan atau ke-Indonesia-an dapat menghasilkan argumentasi yang menyesatkan tentang gagasan-gagasan universal negara bangsa (nation-state), demokrasi, dan HAM. Isu Problematis: Adalah jelas bahwa setiap bangsa selalu memiliki berbagai kekhususan dan keunikan baik yang dihasilkan oleh faktor-faktor sosial, ekonomi, politik, budaya, sejarah maupun kombinasi di antara berbagai faktor itu. Walaupun demikian, peneguhan secara keliru terhadap kedua konsep itu dapat mendorong berkembangnya pemikiran dan atau kepercayaan sempit yang memberi jalan bagi para elite dan eksponen tradisional lainnya untuk menghasilkan doktrin-doktrin ortodoks yang tidak saja berbeda namun juga mengandung pertentangan secara diametral dengan konsepsi dan praktik demokrasi.P33A33 33333333 3333 333333G33X !=!!@!  ` 33` Sf3f` 33g` f` www3PP` ZXdbmo` \ғ3y`Ӣ` 3f3ff` 3f3FKf` hk]wwwfܹ` ff>>\`Y{ff` R>&- {p_/̴>?" dd@,|?" dd@   " @ ` n?" dd@   @@``PR    @ ` ` p>> f(    6  `}  T Click to edit Master title style! !  0  `  RClick to edit Master text styles Second level Third level Fourth level Fifth level!     S  0( ^ `  >*  0`% ^   @*  0 % ^ ` % @*H  0޽h ? 3380___PPT10.J & Default Design  7(    c $%`<$ 0 % fDEMOKRASI DALAM DELAPAN TESIS: Beberapa Isu Problematis dan Perkembangannya di Indonesia (1998-2008) @gffFf(,d!!  c $%5 V <$  0 %  daniel sparringa,P33!  0 %  H ,$  0 | universitas airlangga,P 33!/  0  ,$  0 - komunitas indonesia untuk demokrasi (KID),.P *33)!\  6v @ ?"` 33___PPT10.J &+pD' = @B DH' = @BA?%,( < +O%,( < +D' =%(D' =%(DF' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =-u6Bdiamond(in)*<3<*D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*++0+ ++0+% ++0+% ++0+% +0  4,P(    S j ,<$  0  6  S  ? 33___PPT10|.P0{P++dD' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<* D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<* D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<* D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<* D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*'%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*'D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*'D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*'r%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*'rD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*'rD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*rn%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*rnD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*rn+8+0+ +  4,p(    S P{, `i<$  0 { 6  S  ? 33LD___PPT10$.R@%+Ewy^D' = @B D{' = @BA?%,( < +O%,( < +D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =-m6Bbox(in)*<3<* D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =-m6Bbox(in)*<3<* D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*'%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*'D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*'%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*'D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*m%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*mD' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*n%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*nD' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*+8+0+ +0  4,(    S ,b <$  0  6  S  ? 33___PPT10|.S]p++dD' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<* D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<* D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* n%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<* nD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<* nD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*nn%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*nnD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*nnD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*o%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*oD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*oD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*+8+0+ +&"  4, (     S T `<$ 0  6  S  ? 33  ___PPT10r .TV +[W_D ' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* D' =-g6B fade*<3<* D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* w%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* wD' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* wD' =-g6B fade*<3<* wD$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* w%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* wD' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* wD' =-g6B fade*<3<* wD$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* %(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* D' =-g6B fade*<3<* D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* `%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* `D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* `D' =-g6B fade*<3<* `D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<* `%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<* `D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<* `D' =-g6B fade*<3<* `+8+0+  +  4,$(  $ $ S Ύ `<$  0  6 $ S  ? 33!___PPT10.To++dD' = @B DP' = @BA?%,( < +O%,( < +D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*$ %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*$ D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*$ D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*$ x%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*$ xD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*$ xD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*$x%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*$xD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*$xD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*$%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*$D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*$D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*$%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*$D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*$+8+0+$ +  4,((  ( ( S @@ `<$ 0  6 ( S  ? 33LD___PPT10$.TrW+M@=D' = @B D{' = @BA?%,( < +O%,( < +D' =%(D' =%(D:' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*( %(D' =-i6B wedge*<3<*( D' =%(D' =%(D:' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*( w%(D' =-i6B wedge*<3<*( wD' =%(D' =%(D:' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*(wf%(D' =-i6B wedge*<3<*(wfD' =%(D' =%(D:' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*(gx%(D' =-i6B wedge*<3<*(gxD' =%(D' =%(D:' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*(xm%(D' =-i6B wedge*<3<*(xm+8+0+( +  4,,(  , , S Q `<$ 0  6 , S  ? 33  ___PPT10b .U`hD+[W_D ' = @B D ' = @BA?%,( < +O%,( < +D' =%(D' =%(DF' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*, %(D' =-u6Bdiamond(in)*<3<*, D' =%(D' =%(DF' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*, %(D' =-u6Bdiamond(in)*<3<*, D' =%(D' =%(DF' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*,%(D' =-u6Bdiamond(in)*<3<*,D' =%(D' =%(DF' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*,,%(D' =-u6Bdiamond(in)*<3<*,,+8+0+, +8  B:0(  0 0 S 0@< `<$  0  D 0 S  ?"  33___PPT10v.U`F.++dD' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*0 %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*0 D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*0 D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*0 %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*0 D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*0 D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*0%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*0D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*0D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*0%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*0D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*0+8+0+0 +  B:4(  4 4 S t `<$  0  D 4 S  ?"` 33`X___PPT108.V`C+Ewy^D' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*4 %(D' =-m6Bbox(in)*<3<*4 D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*4 %%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*4 %D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*4&;%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*4&;D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*4;%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*4;D' =%(D' =%(D>' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*4[%(D' =-m6Bbox(in)*<3<*4[+8+0+4 +>  B:8(  8 8 S  `<$  0  D 8 S  ?"  33___PPT10|.V+<]D' = @B D' = @BA?%,( < +O%,( < +D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8 %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8 D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8 D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8 %(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8 D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8 D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8D' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8D{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8d%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8dD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8dD{' =%(D#' =%(D' =A@BBBB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*8d%(D' =+4 8?\CB#ppt_xBCB#ppt_xB*Y3>B ppt_x<*8dD' =+4 8?dCB1+#ppt_h/2BCB#ppt_yB*Y3>B ppt_y<*8d+8+0+8 +  B:<(  < < S 9 `<$ 0  D < S  ?"` 33B:___PPT10.W0]>+[W_D' = @B Dq' = @BA?%,( < +O%,( < +D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*< %(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<*< D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<*< D' =-g6B fade*<3<*< D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*< L%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<*< LD' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<*< LD' =-g6B fade*<3<*< LD$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*<M^%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<*<M^D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<*<M^D' =-g6B fade*<3<*<M^D$' =%(D' =%(Dt' =A@BB7BB0B%(D' =1:Bvisible*o3>+B#style.visibility<*<^%(D' =+4 8?fCB#ppt_w*0.70BCB#ppt_wB*Y3>B ppt_w<*<^D' =+4 8?\CB#ppt_hBCB#ppt_hB*Y3>B ppt_h<*<^D' =-g6B fade*<3<*<^+8+0+< +r@0;^gÀ۶A"14G6Y|w? `Oh+'07 `h  $ 0 <HPgDEMOKRASI DALAM DELAPAN TESIS: Beberapa Isu Problematis dan Perkembangannya di Indonesia (1998-2008) UserRASUserRAS6erMicrosoft PowerPointAN @R@&K@px0[G6g  BE  -^mv-- @ ! --`ox-- @ !  --apz-- @ !--br{-- @ ! --ds}-- @ !!--eu-- @ !'--gw-- @ !---hx-- @ !3--jz-- @ !9--k|-- @ !>--l}-- @ !A--m-- @ !E--o-- @ !J--p-- @ !N--r-- @ !S--s-- @ !W--u-- @ !Z--v-- @ !]--w-- @ !_--x-- @ !d--z-- @ !g--|-- @ !j--}-- @ !n---- @ !r---- @ !u---- @ !x---- @ !{---- @ !~---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ ! ---- @ !---- @ !---- @ ! ---- @ !&---- @ ! ,---- @ !5---- @ ! =---- @ ! F---- @ !R---- @ !4a---- @ ! ---- @ ! ---- @ !---- @ ! ---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ ! ---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !---- @ !!---- @ !$---- @ !'---- @ !*---- @ !----- @ !1---- @ !4---- @ !9---- @ !<---- @ !>---- @ !A---- @ !D---- @ !G---- @ !J---- @ !M---- @ !P---- @ !S---- @ !V---- @ !Y---- @ !\---- @ !_---- @ !b---- @ !f---- @ !i---- @ !l---- @ !o---- @ !r---- @ !u---- @ !x--~-- @ !{--}-- @ !--{-- @ !--y-- @ !--x-- @ !--v-- @ !--u-- @ !--t-- @ !--r-- @ !--q-- @ !--p-- @ !--n-- @ !--m~-- @ !--k|-- @ !--k{-- @ !--iy-- @ !--gx-- @ !--fv-- @ !--dt~-- @ !--cs|-- @ ! --aqz-- @ !--`ox-- @ ! --^mv-- @ !---'@"Arial-. f42 {iDEMOKRASI DALAM DELAPAN TESIS:! !    ."System-@"Arial-. f+2 Beberapa Isu Problematis     .-@"Arial-. f72 dan Perkembangannya di Indonesia    .-@"Arial-. f2 x(1998 .-@"Arial-. f 2 - .-@"Arial-. f2 2008) .-@"Arial-. 332 Mdaniel sparringa .-@"Arial-. 33'2 7Muniversitas airlanggat  .-@"Arial-. 33E2 \M)komunitas indonesia untuk demokrasi (KID)  .-՜.+,0     +On-screen Show  Personal Sh̏S A ArialDefault DesigngDEMOKRASI DALAM DELAPAN TESIS: Beberapa Isu Problematis dan Perkembangannya di Indonesia (1998-2008) Slide 2Slide 3Slide 4Slide 5Slide 6Slide 7Slide 8Slide 9 Slide 10 Slide 11 Slide 12  Fonts UsedDesign Template Slide Titles _㨏UserUser  !"#$%&'()*+,-./0123456789:;<=>?@ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ[\]^_`abcdefghijklmnopqrstuvwxyz{|}~Root EntrydO)Current UserSummaryInformation(8PowerPoint Document(̏DocumentSummaryInformation8Root EntrydO)y@Current User>SummaryInformation(8PowerPoint Document(̏"_㨏 Komnas HAMKomnas HAM