komnasham.go.id

 

Natalius Pigai

In Periode 2012 - 2017 | Periode 2012 2017
8:10 AM - 21 February 2013 Super User Kategori Sebelumnya: Anggota Komnas HAM

 

 

 

Lahir di Paniai Papua, 28 Juni 1975. Meraih gelar SIP (Sarjana Ilmu Pemerintahan) dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) di Yogyakarta tahun 1999. Pendidikan non formalnya adalah pendidikan statistika di Universitas Indonesia tahun 2004, pendidikan Peneliti di LIPI tahun 2005, dan Kursus Kepemimpinan di Lembaga Administrasi Negara tahun 2010 - 2011. Pigai pernah menjadi aktivis dibeberapa lembaga antara lain sebagai staf/ aktivis di Yayasan Sejati yang memiliki perhatian pada hak-hak masyarakat terpinggirkan di Papua, Dayak, Sasak, dan Aceh (1999-2002). Sebagai staf di yayasan Cindelaras (Yacitra) yang mengembangkan kearifan lokal khususnya perjuangan hak-hak petani (1998), sebagai ketua di Lembaga Studi Renaissance yang konsen pada pengembangan budaya Papua (1998-2000). Sebagai ketua di Asosiasi Mahasiswa Papua (AMP) Internasional (1997-2000), dan juga aktif bersama elemen-elemen civil society (PRD, PMKRI, Walhi, Kontras Rumah Perubahan, Petisi 28) melakukan kegiatan diskusi, seminar, aksi dan lainnya yang berorientasi pada perubahan. Selain aktif di LSM, Pigai pernah menjabat sebagai staf khusus menteri (Ir. Alhilal Hamdi dan Yacob Nuwa Wea) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI tahun 1999-2004. Pigai termasuk aktif menulis. Hal ini bisa dilihat dari publikasi tulisannya, terutama publikasinya di bidang hak asasi manusia dalam 10 tahun terakhir. Beberapa tulisannya telah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain berjudul Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Papua, Migrasi Tenaga Kerja Internasional, Anak Indonesia Teraniaya: Status kewarganegaraan Anak TKI di Malaysia, dan Tenaga Kerja Penyandang Cacat, dan lain-lain. Selain itu sejumlah artikel, opini, karya tulis ilmiah maupun makalah pernah terbit di beberapa media massa nasional. Antara lain artikel yang berjudul Kematian Theys Eluay dan Masa Depan Papua, Aksi Premanisme terhadap Pers, dan Papua Mati di Lumbung Padi.

 

 

 

Read times
Enjoyed this article? Share it