Kabar Latuharary

David Cohen: Data Base Harus Sensitif Bagi Korban

Prof. David Cohen menjadi narasumber dalam Workshop TI untuk Pemajuan dan Perlindungan HAM pada 22 September 2016.

David Cohen yang merupakan pakar hukum HAM internasional mengatakan bahwa sistem data base yang akan dibangun oleh Komnas HAM harus sensitif terhadap korban pelanggaran HAM. Ia yang berpengalaman dalam memanfaatkan data base HAM dalam pengadilan Khmer Merah Kamboja mengatakan, data base harus mampu menjawab kebutuhan korban dan tidak membuat korban terintimidasi. Identitas korban harus bisa dijamin kerahasiannya. Hal ini bisa diatur secara teknis dalam aplikasi data base.

David menceritakan pengalamannya ketika bekerja dengan CTF (Commission for Truth) di Kamboja, semua nama korban dan individu dihapus atau ditutup, yang dimungkinkan dengan membuat materi rahasia (confidential).

Harus ada assessment terhadap pengguna sistem untuk kebutuhan mereka. Hal ini dilakukan dengan  mengadakan pertemuan dengan masyarakat dan rapat konsolidasi dengan kelompok korban supaya dapat pemahaman mengenai kebutuhan mereka. Sistem harus dirancang supaya cocok dengan pengguna.

Menurut David, harus dipahami apa yang ingin dicari pengguna dan bagaimana kemampuan mereka untuk mendapatkan informasi tersebut. Hal ini perlu dipikirkan sejak awal. Kebutuhan pengguna akan sangat berbeda. Pengalamannya ketika ingin menggunakan online database dalam monitoring Pengadilan kasus Khmer Merah, informasi tersedia akan tetapi butuh kemampuan untuk menggunakan sistemnya.

Lebih lanjut David yang merupakan pengarang buku tentang “Pengadilan Kasus Timor Timur: Diniatkan untuk Gagal” tersebut menyampaikan bahwa data base harus mampu menjangkau masyarakat di daerah pelosok sekalipun, terlebih karakteristik wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.

David juga menyinggung tentang jaminan keberlanjutan dari data base tersebut, di mana hal ini terkait dengan kapasitas dan strategi untuk mensuplai informasi di data base sehingga tetap relevan dan kontekstual, juga dukungan politik dari negara.
Short link