Kabar Latuharary

Membangun Jejaring dengan Pengajar HAM

Dalam mewujudkanpelaksanaan HAM yang kondusif di Indonesia, Komnas HAM perlu mendapatkan dukungandari masyarakat dan para pegiat HAM. Jejaring ini bermanfaat dalammengakselerasi pemajuan HAM yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkanpenurunan.

Terkait denganhal tersebut, Komnas HAM bekerjasama dengan Serikat Pengajar Hak Asasi Manusia(SEPAHAM) dan The Centre for Human RightsMulticulturalism & Migration (CHRM2) Universitas Jember, menyelenggarakanSarasehan HAM dengan tema “Sinergi Penguatan Antar Lembaga Hak Asasi Manusia diIndonesia.” Kegiatan diselenggarakan di Gedung Rektorat Universitas Jember pada20 – 21 Maret 2018.


Kegiatan dibukaoleh Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, dan Rektor Universitas JemberMohammad Hasan, Ph.D. Acara pembukaan dihadiri diantaranya oleh Wakil KetuaEksternal, Sandrayati Moniaga, Komisioner Sub Komisi Pengkajian dan Penelitian,Mochammad Choirul Anam,, Wakil Rektor III Universitas Jember, Prof. M.Sulton dan Sekretaris Jenderal Komnas HAM Dr. Tasdiyanto.


Dalam sambutannya
,Ketua Komnas HAM mengajak dosen pengajar HAM untuk aktif dalammemajukan HAM di Indonesia yang saat ini sudah mulai jarang dibicarakan. Ia jugamengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah yang menghargai prinsip keadilan,kesetaraan dan HAM. “Saya mengajak seluruhpeserta untuk membangun peradaban bangsa yangberdasar pada prinsip-prinsip HAM,” paparnya

Hal senada pun disampaikan RektorUniversitas Jember, Drs. Moh.Hasan, M.Sc, Ph.
D yangmenegaskan pentingnya akademisi untuk turut berperan dalam pemajuan HAM diIndonesia.

Setelahpembukaan, sarasehan dimulai dengan diskusi tentang kondisi HAM di Indonesiadan isu-isu krusial yang mengemuka, membaca tren pengkajian dan penelitian HAMdi Indonesia, dan membangun strategi sinergisitas antar lembaga HAM diIndonesia.


Bertindaksebagai narasumber dalam diskusi adalah Sri Palupi (Ecosoc Institute), Dr. AlKhanif (Ketua CHRM2), Elfansuri Chairah (Peneliti Komnas HAM), dan M. ChoirulAnam (Komisioner Sub Komisi Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM). Diskusi dihadirioleh  para peneliti Komnas HAM, pejabat struktural Komnas HAM, penelitiCHRM2, dan anggota SEPAHAM yang merupakan pengajar atau akademisi HAM daribeberapa universitas di Indonesia.


Para narasumberdan
pesertajuga berbagi pengalaman penelitian yang telah dilakukan, kendala yang dihadapiselama melakukan riset, pembelajaran dan praktik terbaik penelitiannya dan isuyang diharapkan dapat dikerjasamakan. Salah satu persoalan yang diungkapkan adalah netralitas dan keberanianyang saat ini menjadi persoalan tersendiri dalam dunia akademisi. Selainpersoalan juga muncul komitmen keterlibatan akademisi untuk bersinergi dalampemajuan HAM.

Diskusi menyimpulkanpentingnya perpaduan antara penelitian dan advokasi dalam kerja-kerja pemajuanHAM di Indonesia. Selain itu, dibutuhkan sinergisitas yang kuat dan terpadudalam kerja-kerja pemajuan HAM. Terlontar beberapa isu yang mengemuka dan dapatdikerjakan secara bersama, diantaranya konsep tentang pembatasan HAM, membangunstandard setting diskriminasi ras danetnis, Human Rights Cities,pembangunan berbasis HAM, kelompok minoritas marjinal dan rentan, penguatan HAMdi Institusi dan aparatur negara, dan isu-isu sumber daya di bidang HAM.


Pada hari kedua,21 Maret 2018, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara KomnasHAM dan Universitas Jember yang ditandatangani oleh Ahmad Taufan Damanikmewakili Komnas HAM dan Mohammad Hasan, Ph.D. mewakili Universitas Jember.


Nota Kesepahamanini berisi tentang kerjasama di bidang Penelitian, Pendidikan, dan PengabdianKepada Masyarakat serta Pengembangan Sumber Daya di Bidang Hak Asasi Manusiaini meliputi kerjasama dalam bidang pengkajian dan penelitian di bidang HAM; pendidikan,penyuluhan dan pengabdian masyarakat di bidang HAM; pengembangan kompetensi SDM;pertukaran data dan informasi yang diperlukan; perbantuan tenaga ahli; lokakarya,pelatihan, seminar, pameran, dan kegiatan ilmiah lainnya; dan penggunaanfasilitas yang dimiliki dan kegiatan lain yang disetujui.


Kegiatansarasehan yang melibatkan para pegiat HAM ini diharapkan dapat berlangsungsecara reguler dan rutin di beberapa institusi perguruan tinggi di seluruh Indonesia,sehingga terbangun jejaring HAM yang kuat demi pemajuan HAM yang lebih efektif danmenciptakan kondisi HAM yang kondusif di Indonesia. (Felani/Eka)

Short link