Kabar Latuharary

Keterlibatan Anak di Bawah Umur dalam Aksi 22 Mei 2019

LatuharharyKetua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, menerimainformasi dari para saksi korban bahwa penyerangan pada aksi 22 Mei 2019 lalulebih banyak dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, demikian keterangan yangdiperoleh pada kunjungannya ke RS Bhayangkara Polri –Kramat Jati, pada hari Rabu (23/05/2019).

Informasi ini diperoleh dari saksi korban pihak aparat kepolisian. Para korbanyang ditemui Tim Komnas HAM ini harus dirawat akibat terkena pukulan di kepala,lemparan batu, dan terjatuh karena amunisi sudah habisdan diserbu sehingga terjadi dislokasi pada bagian bahu. “Yang kebanyakankelihatan (massa) anak-anak umur-umur 15-17 tahun,” ungkap aparat polisi yangmengaku berhadapanlangsung dengan massa.

Pada kesempatan ini, Taufan didampingi oleh WakilKetua Bidang Internal Komnas HAM, Hairansyah, dan Tim Pemantauan Pemilu 2019 Komnas HAM.

Taufan tak dapat menutupi keterkejutannya ketika mendengarketerangan saksi korban dari pihak polisi bahwa yang menyerang mereka (polisi),kebanyakan adalah anak-anak remaja. “Sesungguhnyakami sangat mempertanyakan mengapa demonstrasi sebesar ini melibatkan banyakanak-anak di bawah umur (di bawah 18 tahun) yang kesadaran diri mereka tidakkuat sehingga bisa menjadi brutal dan tidak memikirkan dampak perbuatannya dapat membahayakan oranglain dan bahkan dirinya sendiri,”sesalnya.

Menurutnya, tindakan semacam ini masuk dalam kategori pidana. “Kadang-kadangorang kerap menduga apabila tindakannya tidak masuk kategori pelanggaran HAMmaka tergolong tindakan ringan. Padahal tindak pidana menyerang aparatkepolisian, hukumannya bisa sangat berat,” tukas Taufan.

Lebih detil Taufan menyampaikan bahwa anak-anak ini seharusnyadihindarkan dari unjuk rasa karena bukan dunia mereka. Dunia mereka itu duniabermain dan belajar.  

Terkait temuan ini, Komnas HAM akan berkoordinasi dengan KPAI. Kendati demikian, KomnasHAM tetap menegaskan penyesalannyabahwa kejadian ini harus terjadi dan menghimbau setiap organisasiatau kelompok manapun yang hendakmelakukan demonstrasi agar memahami anak-anak tidakboleh dilibatkan apalagi jika sampaiterjadi tindak kekerasan seperti peristiwa 22 Mei 2019 lalu.  (Rebeca/ENS)

Short link