Kabar Latuharary

Merawat Toleransi dengan Pendekatan Kebudayaan

Kabar Latuharhary – Indonesia saat ini dilanda tiga “pandemi”, yaitu Covid-19, intoleransi dan patriarki (khususnya kekerasan terhadap perempuan). Gejala radikalisme dan intoleransi meningkat di Indonesia. Larangan beribadah atau persekusi kepada kelompok minoritas membuat demokrasi dan kerukukan antar umat beragama dalam kondisi yang kritis. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tiga band yang bernaung di Perkumpulan Simponi merespon tiga pandemi tersebut dalam bentuk mini album.

“Mini album tiga pandemi, tepat dirilis di Hari Kemerdekaan RI. ini menjadi gerakan yang kuat dalam merawat toleransi,” kata M. Choirul Anam, Komisioner Komnas HAM RI, saat memberikan tanggapan dalam launching mini album tiga pandemi yang diselenggarakan secara daring di Hari Kemerdekaan RI pada Senin (17/08/2020).

Selain Komisioner Komnas HAM, acara ini juga dihadiri oleh Country Representative, The Asia Foundation, Sandra Hamid, Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, Dokter Penyintas Covid-19, Tri Maharani, dan Musisi, Endah Widiastuti. Acara ini merupakan perilisan mini album Tiga Pandemi. Mini album ini merupakan kolaborasi tiga band Perkumpulan Simponi, yaitu Sisters in danger, Nada Bicara dan Simponi (Sindikat Musik Penghuni Bumi).


Fenomena Intoleransi di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Hal ini semakin mengkhawatirkan karena banyaknya kelompok Intoleran yang menyasar anak-anak muda. Sasarannya menyebar ke berbagai tempat, mulai dari sekolah hingga lingkungan tempat tinggal.

Musik merupakan media populer yang diminati oleh kalangan muda. Melalui musik, pesan-pesan toleransi lebih mudah menarik perhatian pendengar dan orang dapat dengan mudah mengingat informasi yang disampaikan.

Isu keberagaman, kesetaraan,  toleransi, merupakan beberapa isu yang dapat disuarakan melalui musik. Pendekatan dengan media ini menjadi pendekatan yang persuasif untuk menyasar kalangan muda.

Toleransi dapat dimulai dari sebuah keterbukaan. Sikap saling menerima budaya satu dengan budaya lain merupakan bagian penting dalam bertoleran, ujar Anam. Lirik-lirik yang terkandung dalam lagu, merupakan pesan yang lebih hangat diterima dalam menyuarakan toleransi. Ia mengatakan bahwa pendekatan kebudayaan lebih mudah diterima dibandingkan melalui pidato yang kaku.

“Momen Kemerdekaan Republik Indonesia ini merupakan momentum yang tepat untuk merilis mini album tiga pandemi. Launching mini album ini menjadi gerakan yang kuat dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi, dan pesan-pesan lain  dengan pendekatan kebudayaan,” pungkas Anam.(Feri/LY)

Short link