Kabar Latuharary

Museum Rekoleksi Memori, Sebuah Ide Mendorong Museum HAM di Indonesia

Latuharhary – Pada peringatan Hari HAM Sedunia 2015, kolaborasi 3 (tiga) lembaga yaitu Komnas HAM, Dewan Kesenian Jakarta dan Partisipasi Indonesia mendorong penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu dengan menginisiasi pembangunan museum rekoleksi memori yang bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Kehadiran museum ini diharapkan dapat mengumpulkan sebagian kebenaran sejarah yang masih terserak sehingga memberikan referensi sejarah yang tepat bagi kaum muda. “Kehadiran museum semacam ini, kendati bersifat temporer, dapat menjadi cara lain untuk memastikan kepada publik bahwa sesuatu telah terjadi di masa lalu dan mendorongnya menjadi kebenaran umum. Ini juga merupakan upaya mencari keadilan ketika pintu yudisial masih tertutup,” papar Ketua Komnas HAM Nur Kholis pada acara pembukaan museum rekoleksi memori di TIM, Senin (7/12/2015).

Lebih lanjut, Nur Kholis menandaskan bahwa sebuah negara akan berdiri dengan kokoh hanya apabila dibangun dengan kejujuran. “Ide ini patut diapresiasi  terutama karena merupakan upaya mencari keadilan tanpa kekerasan. Mudah-mudahan momentum ini dapat disambung dengan gagasan pembangunan museum HAM, tentu saja dengan meminta partisipasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Hukum dan HAM,”paparnya.

Bangunan museum dirancang oleh arsitek muda Indonesia Stephanie Larassati, Gosha Muhammad dan WEN Urban Office. Sebuah bangunan temporer baru, khusus dibangun di atas Areal Taman Ismail Marzuki, sebagai pernyataan bahwa generasi muda menolak untuk terus menutup mata atas sejarah pelanggaran HAM dan tragedi kemanusiaan. Museum akan berdiri selama 7 s.d. 12 Desember 2012.
Museum temporer rekoleksi memori merupakan bagian dari langkah penting menyelesaikan persoalan masa lalu, terutama bagi generasi muda saat ini. Merupakan terobosan yang tengah diupayakan dalam rangka menggugah kesadaran masyarakat, mengadvokasi agenda perjuangan, dan melakukan perlawanan terbuka.

Rekoleksi Memori berupaya menuntaskan berbagai peristiwa pelanggaran HAM dengan menguak sejarah yang masih terus diburamkan.  Atas dasar keadilan dan kemanusiaan maka seluruh peristiwa harus dibuat seterang-terangnya, sejernih-jernihnya, karena Ia adalah pelita bagi generasi hari ini untuk mengenal sejarahnya sendiri dan memberikan petunjuk untuk masa depan. Ia berupaya memanggil kembali memori dari masa lampau melalui ingatan-ingatan pelaku sejarah yang tidak dicatat dalam buku sejarah.Mengumpulkan memori-memori dan mengenal jati diri untuk menghapus hegemoni orde baru yang telah sukses menanamkan kekerasan.

Program ini diselenggarakan oleh tiga kelompok masyarakat berbeda, yaitu sebuah komisi negara (Komnas HAM), otoritas kesenian (Dewan Kesenian Jakarta), dan insiatif warga (Partisipasi Indonesia).Kemudian mendapatkan dukungan sejumlah lembaga yaitu Movies That Matter, ELSAM, Yayasan IkA, AJAR, LBH-Jakarta, Pamflet, IKOHI, Majalah Historia, Marsinah FM, YCHR, /PLAY, INFID, ALINEA TV.

Direktur Partisipasi Indonesia, Yuliana Erna Bahara, menyampaikan bahwa inisiatif mendirikan museum rekoleksi memori berasal dari situasi Indonesia yang hingga kini belum mampu menyelesaikan satu pun kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. “Budaya kekerasan masih juga direproduksi hingga saat ini. Suara-suara korban belum mampu mendorong disuguhkannya kebenaran. Oleh karena itu, kami hendak merumahkacakan sejarah agar tidak lagi samar-samar dan menjadi terang benderang. Kami sungguh berharap pesan anti kekerasan dapat tersampaikan dengan lugas,” urainya.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Irawan Karseno, pada kesempatan yang sama menyatakan bahwa pihaknya mempunyai pendekatan yang berbeda dalam menyikapi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Dalam rangka memperingati Hari HAM Internasional 2015, DKJ akan menginisiasi festival film yang berlangsung pada 4 s.d. 10 Desember 2015 di KineForum TIM. Telah diputar 15 film dimana 4 di antaranya adalah film pendek berjudul Tidak Lupa (Asrida elisabeth), Saudara Dalam Sejarah (Amerta Kusuma), Tarung (Steve Pillar), 0990 (Bayu PF). Keempat film ini khusus diproduksi untuk kegiatan festival. Menurutnya, festival film akan mengajak kita bertemu dengan suara-suara dari masa lalu, dalam rangka menyatakan suara kita di masa depan. Peristiwa 1965 adalah tema DKJ tahun ini.

“Seni memperbaiki kualitas peradaban, memperkaya persepsi dan membangun empati karena menggunakan pendekatan perasaan. Apabila kita mampu melewati peristiwa sejarah dengan jujur, semoga kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan para pendahulu kita,” paparnya.

Upaya ini dilakukan melalui berkesenian karena kesenian sesungguhnya memiliki kekuatan untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat dilakukan dengan cara biasa, atau menyampaikan hal-hal yang sudah sering disampaikan namun dengan cara berbeda dan lebih menarik.

Melalui medium berkesenian, akan dilakukan upaya memperluas basis dukungan melalui penyebaran informasi dan kesadaran mengenai pentingnya menyelesaikan semua pelanggaran HAM masa lalu. Jauh lebih mendasar ketimbang mempersoalkan pertentangan ideologi, yang sebetulnya juga tidak lagi dipahami oleh generasi muda. Kegiatan ini akan mengajak kita semua belajar dari kesalahan pendahulu agar tidak lagi mengulangnya di masa yang akan datang. Museum ini adalah untuk generasi muda. Menyajikan informasi yang tidak akan pernah dijumpai dalam buku-buku resmi pelajaran sejarah di sekolah. (Eva Nila Sari)
Short link