Pengkajian dan Penelitian

Diskusi Penyandang Disabilitas Di Tengah Masyarakat Adat

KomnasHAM adakan seminar dan lokakarya dengan tema Penyandang Disabilitas dalamMasyarakat Adat dalam Konggres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara  (KAMAN)V yang dilangsungkan di Medan Sumut pada 13-19 Maret 2017.

Acaradibuka oleh Komisioner Komnas HAM Sandra Moniaga yang menyampaikan bahwa isupenyandang disabilitas masyarakat adat belum banyak di explore lebih lanjut.Padahal, di dalam CRPD (Convention on theRights of Persons with Disabilities) maupun dalam Undang-undang No. 8 tahun2016 tentang Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas bisa menimpa siapasaja.

Masyarakatadat dengan kondisi disabilitas tentu saja akan berpotensi mengalami bentukdiskriminasi ganda, yaitu diskriminasi sebagai masyarakat adat dan sebagaidisabilitas. Hal ini belum lagi jika kondisi tesebut terjadi pada perempuan dananak masayarakat adat.

Isudisabilitas dalam masyarakat adat sangat berkaitan dengan isu penikmatan penuhdalam pembangunan dan Pembangunan kewarganegaraan inklusif. Masyarakat adatberpotensi menghadapi diskriminasi dan exclusi dari setiap pembangunan darisetiap aspek kehidupan. Masyarakat adat juga berpotensi mengalami pengusiranpaksa dari wilayahya yang diakibatkan proses pembangunan. Kondisi ini menjadilebih rentan jika terjadi pada penyandang disabilitas.

IsuDisabilitas dalam masyarakat adat, masih sering terabaikan dalam lingkungannyadan kelompoknya sendiri, dan bahkan dalam sistem masyarakat dan bernegara.Disabilitas dalam masyarakat adat sendiri, menghadapi berbagai lapisandiskriminasi dan pelanggaran dari gender dan dari status disabilitasnya. Yangpaling terlihat adalah tidak adanya pelayanan yang ramah bagi penyandangdisabiltas dalam masyarakatnya sendiri.

Baikmasyarakat adat maupun disabilitas, sama-sama tersisih dari akses pendidikan,kesehatan, pekerjaan, jaminan sosial, bantuan mobilitas dan pelayanan dalamrehabilitasi sosial. Pelayanan publik yang disediakan sangat tidak ramah bagimasyarakat adat maupun disabilitas.

Selainitu, pemerintah kurang dalam memberikan dukungan terhadap keluarga yangmemiliki anggota keluarga atau anak dengan disabilitas. Sehingga menjadikankondisi mereka semakin jauh dari akses yang layak. Selain itu, masyarakat adatatau penyandang disabilitas jauh dari akses sistem hukum dan keadilan yangramah terhadap disabilitas.

Bertindaksebagai narasumber diskusi adalah Tody Sasmita (UGM) dengan tema “Pranata Adatdalam Perlindungan Hak-hak Penyandang disabilitas dalam Masyarakat Adat” “Hidupdalam Neraka”, Yeni Rosa (Perkumpulan Jiwa Sehat) dengan tema “Kekerasanterhadap Penyandang Disabilitas psikososial di Indonesia (Laporan Human Rightwatch 2016)”, Nurul Saadah (SAPDA) dengan tema “Permasalahan perempuan dan anakpenyandang disabilitas di Indonesia” dan Maulani R (HWDI) dengan tema“Perlindungan hukum bagi penyandang disabilitas.”

Sebagaimoderator adalah Tyas Yulianti dari Komnas HAM, dengan fasilitator AtikahNuraini (AJAR Institute) dan pelapor Annas Radin (AMAN). (MDH)