Pendidikan dan Penyuluhan

Observasi Sekolah Ramah HAM di Jakarta Selatan

Tim SekolahRamah HAM (SRH) Komnas HAM melakukan observasi terhadap beberapa alumni pelatihanSRH di Jakarta Selatan, yaitu guru SMA Al izhar dan SMA 34.

Tim SekolahRamah HAM terdiri atas Rusman Widodo, Roni Giandono, Sugeng Sukotjo dan Martinmendatangi ke dua SMA tersebut untuk melakukan observasi terkait penerapanSekolah Ramah HAM pada Kamis (10/8/17) dan Jumat (11/8/17).

BeberapaInstrumen Penilaian yang dinilai meliputi 1. Kebijakan dan Manajemen Sekolah,2. Relasi, Komunikasi, Interaksi dan Koordinasi, 3. Kurikulum danEkstrakurikuler dan 4. Lingkungan, Etos dan Budaya Sekolah.

Dalamkunjungannya ke SMA Al Izhar, Tim Sekolah Ramah HAM disambut oleh Chairimanselaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan Muh Ridwan Selaku Guru BidangMatematika. Oleh karena SMA Al Izhar merupakan sekolah swasta, maka kebijakanyang dilakukan oleh mereka terdiri dari Kebijakan dari Diknas dan Kebijakandari Yayasan.

Padadasarnya, di sekolah diterapkan upaya saling menghargai. Untuk Kode Etikterhadap guru juga sudah dirumuskan dalam Pedoman Umum Hubungan Kerja (PUHK)dan melakukan evaluasi kinerja guru dengan lintas unit, baik pada tingkat SekolahAl Izhar di tingkat SMP – SMA – SD – PAUD) dan perwakilan dari perguruan tinggipada akhir semester.

Untuk tata tertibsekolah, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa/i dilakukan dengan prosesdialogis. Proses hukuman atau konsekuensi yang diberikan adalah berdasarkanpada kesadaran siswa sendiri dengan batasan area yang diberikan sekolah, yaitu AreaKebugaran dan Sikap Upacara, Area Kebersihan dan Kerapihan dan Literasi.

Sepertihalnya di SMA A Izhar, Kunjungan Tim SRH ke SMA 34 pun mendapat sambutan yangbaik oleh Taga Radja Gah selaku Kepala Sekolah dan Ibu Juli Sugiarti SelakuWakasek Bidang Kurikulum beserta wakil kepala sekolah dan guru lainnya.

Dalam prosesdiskusi singkat tentang Sekolah Ramah HAM, terlihat begitu antusiasnya mereka dengankunjungan Tim SRH terkait dengan observasi di Sekolah mereka.

Dalam halkenyamanan, SMA 34 tidak perlu diragukan lagi, karena SMA 34 merupakan SekolahAdiwiyata Mandiri, yaitu sekolah yang berwawasan lingkungan hidup yang merekamulai sejak tahun 1996 melalui kerjasama dengan UNESCO.

Beberapapenghargaan pun diraih oleh mereka, terakhir sebagai Juara 2 Toyota Eco Youthke10 Tingkat Nasional pada tahun 2016 yang lalu. Untuk pelanggaran siswa, SMA34 telah membuat ketentuan terkait pelanggaran dan sanksi yang akan diberikankepada yang melanggar. Hal ini pun sudah mereka informasikan disaat penerimaansiswa didik.

Dari sisisarana dan prasana yang diberikan ke dua SMA ( SMA Al Izhar dan SMA 34),kelengkapan yang disediakan sudah sangat memenuhi kebutuhan hak pendidikansetiap siswanya, mulai dari ruangan yang memadai dan nyaman, kebersihan setiaptoilet, ruang perpustakan, masjid untuk beribadah dan beberapa ruang praktekterkait kegiatan sekolah.

Dalam halpenerimaaan siswa/i inklusi, pada dasarnya kedua sekolah tidak pernah menolak.Mereka mengeluhkan bantuan untuk sekolah terkait kebutuhan siswa yangberkebutuhan khusus, belum memadai.

Sebagaicontoh, di SMA Al Izhar, dalam hal pemenuhan kebutuhan tersebut, merekamenyiapkan lift di perpustakaan dan masjid serta toilet untuk penyandang disabilitas.Sementara di SMA 34, mereka menyediakan kelas untuk siswa berkebutuhan di kelasbawah.

Hasilobservasi tersebut akan dirumuskan lebih lanjut oleh Tim Sekolah Ramah HAM. (Martin)

Short link