Kabar Latuharary

Komnas HAM Terima Audiensi Perhimpunan Wicara Esophagus (PWE) dan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI)

Latuharhary - Perhimpunan Wicara Esophagus(PWE) dan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) melakukan audiensidengan Komnas HAM terkait permasalahan serta perlakuan diskrimatif yang dialamioleh disabilitas laring dan korban rokok di ruang rapat Bagian Pendidikan danPenyuluhan, Kamis (27/06/19).

Audiensiyang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut, diterima oleh Yuli Asminiselaku Plt. Kepala Bagian Dukungan Penyuluhan HAM dan Asri Oktavianty Wahono selaku Plt. KepalaBagian Pengkajian dan Penelitian.

Padakesempatan tersebut, Helena Liswardi selaku perwakilan dari PWE menyampaikan tujuankedatangan mereka ke Komnas HAM.

Helenayang mewakili korban dari paparan asap rokok ini berharap Komnas HAM dapat menjadipenyambung lidah dengan negara. “Negara berkewajiban melindungi warga negaranyadari dampak negatif industri rokok dan saya berharap Indonesia dapat meratifikasikerangka kerja Pengendalian Tembakau oleh WHO yaitu FCTC”, ujar Helena.

Sebagaimana diketahui FCTC (FrameworkConvention on Tobacco Control) merupakan perjanjian internasional tentang kesehatanmasyarakat yang dibahas dan disepakati oleh negara-negara anggota OrganisasiKesehatan Dunia (WHO). Hal ini, bertujuan untuk melindungi generasi masa kinidan masa mendatang dari dampak konsumsi rokok dan paparan asap rokok.

Sebelumnya,Helena juga sempat menjelaskan terkait upaya yang telah dilakukan olehorganisasinya dalam membantu melatih orang – orang dengan kelainan tuna laring yangmemiliki kesulitan / tidak dapat berkomunikasi.

“Bentukpengobatannya adalah dengan speech therapy.Pelatihan ini sangat memungkinkan bagi para penderita untuk dapat berbicarakembali”, papar Helena. Dengan cara demikian, Helena mengungkapkan bahwapenderita pada awalnya akan dilatih untuk dapat memunculkan bunyi esophagus terlebihdahulu, kemudian belajar untuk mengucapkan kalimat. “Rata - rata setelah bunyieshopagus muncul, maka bisa mengucapkan kalimat sekitar 2 (dua) minggu hinggasatu bulan setelah itu”, lanjutnya.

Salahsatu penderita disabilitas laring yang telah berhasil berkomunikasi kembali setelahmelakukan speech therapy denganpendampingan dari PWE adalah Zainudin. Pada audiensi tersebut, Zainuddin mengungkapkanbahwa ia sudah terkena kanker esophagus sejak usia 23 tahun karena terpaparasap rokok. “saya sendiri sebenarnya bukanlah perokok berat, bisa dibilang perokokpasif yang saya dapatkan dari orang tua saya”, ujarnya. Zainudin juga sempatmemperlihatkan saluran nafas yang saat ini sudah dipindah ke lubang yang dibuatdi bagian tenggorokan.

Samaseperti penderita kanker lainnya, Zainuddin pun awalnya sempat merasa putus asa,pasrah, serta menerima apa adanya. Akantetapi, pada akhirnya beliau tetap berusaha untuk mencoba.Hingga kini beliau ikut serta membantu penderita lainnya saat mengikutipelatihan. “Saat ini, saya banyak membantu kegiatan di PWE dan memberikanmotivasi ke teman - teman saat menjalani therapy”,ungkap Zainudin.

Korbanpaparan dari asap rokok lainnya yang hadir adalah Kencana Indrishwari sekaliguspegiat dan perwakilan dari Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI). Helenaadalah seorang perokok pasif yang menderita pembengkakan pada organ jantung danparu – paru sejak tahun 2012 dan hampir setiap bulan harus melakukan sedotcairan di paru - paru.

Menanggapihal tersebut, Asri OktaviantyWahono memberikan masukan agar PWE dan AMKRI terlebih dahulu dapat mencobamelakukan profiling dari para disabilitaslaring dan korban rokok. “petakan dulu permasalahan - permasalahannya, hak -hak apa yang belum terpenuhi, apakah pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif,serta hambatan atau terbatasnya akses yang sering dialami, sehingga bisamenemukan bagaimana pendekatan serta langkah yang dapat diambil selanjutnya”,ungkap Asri.

SementaraYuli Asmini mengungkapkan bahwa Komnas HAM pada intinya menerima dengan tanganterbuka dan akan concern terhadap masalahini. “ke depannya kami akan melakukan diskusi lebih lanjut dengan komisioner danakan bekerja berdasarkan mandat yang dimiliki Komnas HAM”, tutup Yuli.

Dapatdiberitakan bahwa audiensi hari ini adalah agenda awal dimana telah dijadwalkanpula untuk audiensi berikutnya pada tanggal 9 Juli 2019 yang akan dihadiri olehAnggota Komnas HAM. (Niken/ENS)

Short link