Kabar Latuharary

UI dan UNESCO Undang Komnas HAM Rumuskan Kebijakan TVET

Latuharhary–Komnas HAM menghadiri acara kick offMeeting yang diselenggarakan oleh Lembaga Demografi FEB UI bekerja samadengan UNESCO, membahas rancangan kebijakan Technical and Vocational Education andTraining (TVET)yang berbasis Human Rights, bertempat di Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, pada Kamis (11/07/2019).

 

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkanpenilaian bukti (valorisation of evidence)dalam  perencanaan dan desainkebijakan TVET yang inklusif. Dalam diskusi tersebut hadir beberapa staf  Komnas HAM dari Bagian Dukungan Pemajuan, beberapa Instansi, dan LSMuntuk bersama sama merumuskan kebijakanTVET yang tepat bagi semua kalangan terutama bagipenyandang disabilitas.

 

Merumuskan pendidikan vokasi yang inkusifdan berbasis HAM bukanlah proyek yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, perlu perjuangan dan usahakeras khususnya pendidikan vokasi bagi penyandang disabilitas,” ujar Alexander Hauschild, KonsultanInklusi, Disabilitas dan Hak Asasi Manusia UNESCO.

 

Melaluisistem inklusi diharapkan sistem pendidikandapat berubah. Dewasa ini, penyandang disabilitas perlu menyesuaikan diri ataumelakukan serangkaian persiapan sebelum masuk ke sekolah umum atau sekolahvokasi. Dengan adanya sistem inklusi, kurikulumlah yang disiapkan ataudisesuaikan dengan penyandang disabilitas sehinggapenyandang disabilitas tidak mengalami hambatan dalam kegiatan belajarmengajar.

 

Lembaga DemografiUniversitas Indonesia berharap, kontribusi dari Komnas HAM selaku lembaganegara, instansi-instansi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, dapatmenjadi informasi penting dalam melakukan penelitian lebihlanjut guna menyusun rancangan kebijakan terkaitTVET yang lebih efektif.

 

Perludiketahui, sekolah vokasi /pendidikan vokasi merupakansalah satu jenis pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Ayat 3 dinyatakan bahwa programpendidikan di pendidikan tinggi mencakup pendidikan akademik (sarjana,magister, dan doktor), pendidikan profesi/spesialis dan pendidikan vokasi(diploma/sarjana terapan).

Pendidikanvokasi merupakan pendidikan tinggi program diploma yang menyiapkan mahasiswauntuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjanaterapan. Jadi, pada dasarnya pendidikan vokasi merupakan nama lain dari programdiploma yang sudah lama dikenal.

Pendidikanvokasi juga merupakan nama lain dari pendidikan kejuruan. Berbanding terbalikdengan sistem pendidikan akademik, pendidikan vokasi menerapkan sistem minimal60 % praktekdan maksimal 30 % teori atau idealnya 70 % praktek dan 30 % teori. Anak-anak lulusan Sekolah MenengahKejuruan (SMK) akan lebih tepat bila melanjutkan ke jenjang lebih tinggi yangsesuai yaitu sekolah vokasi. (Ferry/ENS)

 

Short link