Kabar Latuharary

Bangkitkan Kepedulian Anak Muda, Komnas HAM Nobar Film Pendek

Banda Aceh - Komnas HAM mengadakan  Roadshow Rekoleksi Memori dalam rangkaian peringatan Hari HAM Internasional. Pemutaran film di wilayah kerja enam kantor perwakilan Komnas HAM menjadi upaya penyebarluasan nilai-nilai HAM dalam konteks kekinian.

Gelaran perdana pemutaran film terkait isu pelanggaran HAM dilakukan di Banda Aceh. Sekira 100 civitas akademika, aktivis, dan masyarakat umum memenuhi ruangan di Universitas Muhammadiyah Aceh (Umaha), Kamis malam (5/12/2019). 

Setelah tiga film bertema pelanggaran HAM berat, yakni Kamis ke-300, Bura, dan Sowan ditayangkan selama total waktu 46 menit, penonton diajak berdiskusi bersama para panelis dalam tema besar, 'Harapan dari yang Dulu-Dulu'.

"Ketiga film tadi menggambarkan tiga kasus yang telah diselidiki Komnas HAM. Apa yang dilakukan? Komnas HAM berhasil menghadirkan kebenaran atas apa yang selama ini ditutupi, disimpan oleh rezim otoriter berhasil diungkap," cetus Wakil Ketua Komnas HAM Sandrayati Moniaga mengawali diskusi.

Keragaman tema film, mulai dari penghilangan paksa para pegiat HAM, Peristiwa 1965 hingga Kasus Isu Ninja di Jawa Timur, menurutnya, diharapkan mendorong pengungkapan dan mencegah peristiwa serupa terulang kembali. Lantaran Sandrayati meyakini jika tumbuhnya kesadaran sosial tinggi di tengah masyarakat akan mengubah maupun membentuk perspektif masyarakat untuk ikut mendorong penegakan hukum kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM.

"Saya sangat mengapresiasi para sineas yang membantu mengaktualisasikan peristiwa. Media film yang membawa pesan kunci membuat masyarakat lebih mudah membayangkan sesuatu yang terjadi pada masa lampau," imbuh Sandrayati.


Ia berharap rangkaian acara Hari HAM yang disebarluaskan ke tengah komunitas anak muda di Banda Aceh membangkitkan kepedulian mereka terhadap isu-isu HAM, seperti Rumoh Geudong yang merupakan peristiwa pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa Aceh dalam status Daerah Operasi Militer (DOM) pada 1989-1998.

"Orang muda berdirilah bersama-sama membela HAM!" ujarnya berseru.

Semangat menyebarluaskan secara kekinian diapresiasi oleh Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh Dr. Taib Zakaria, S.H., M.H. Ia mencermati para mahasiswa perlu diedukasi lebih intens tentang isu HAM supaya menyadari pentingnya memperjuangkan hak-hak dasar mereka.

Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Aceh Septriady Utama turut bangga jika anak muda Aceh dapat menyerap pesan dari film yang ditayangkan untuk diimplementasikan sebagai nilai-nilai HAM kepada masyarakat. 

Ketua Pusat Studi HAM Universitas Syiah Kuala Khairani Arifin turut merekontrusi pola pikir partisipan diskusi agar tak melupakan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM di masa lalu.

"Para pejuang HAM tak bisa melakukan itu karena melupakan kasus-kasus tersebut,  sama saja membiarkan para pelaki kejahatan HAM melenggang bebas dan korban tak mendapat keadilan," urainya.

Ia berharap langkah Komnas HAM untuk menyuarakan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM melalui pemutaran film membangkitkan kepedulian, menumbuhkan keinginan pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut di jalur hukum, dan fokus melakukan rehabilitasi ke korban," pinta Khairani.

Roadshow ini juga menampilkan sutradara film Sowan, Bobby Prasetyo, Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh Muhammad Daud Beureueh, sineas film Aceh Fauzan Santa.

Penayangan film berikutnya berturut-turut dilakukan di Kota Pontianak dengan mengangkat tema toleransi dan Kota Padang dengan tema agraria. (IW)

Short link