Kabar Latuharary

Napak Tilas Jalur Reformasi 1998, Merawat Ingatan Masa Lalu

Kabar Latuharhary – Kegiatan napak tilas jalur Reformasi 1998 adalah bagian akhir dari serangkaian acara Melaung HAM bersama Sivitas Akademika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kerja sama Komnas HAM, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS Solo dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dengan dukungan dari Program Peduli, di Solo pada Rabu (27/11/2019).

Napak tilas jalur Reformasi 1998 merupakan sebuah kegiatan untuk menelusur dan mengenal beberapa titik yang pada reformasi 1998 telah menjadi penanda terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang mendorong Reformasi 1998. 

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 40 (empat puluh) mahasiswa dengan harapan agar mereka ini akan lebih mengenal dan memahami fase penting dalam perjalanan sejarah Indonesia terkait transisi demokrasi yang terjadi di Kota Solo. Selain itu, beberapa penyintas yang berdomisili di Kota Solo dan sekitarnya pun turut mengikuti napak tilas ini.

Rute yang didatangi untuk kegiatan ini terdiri dari Boulevard UNS, Purwosari, Pusat Grosir Solo (PGS), Balaikota Solo, dan Makam Purwoloyo. Pada titik pertama yaitu Boulevard UNS, narasumber Napak Tilas yaitu Achmad Ramdhon, menyampaikan bahwa pada 1998, aksi mahasiswa dimulai dari KOPMA UNS. “Pada masa itu tidak boleh ada aksi di luar kampus. Akan tetapi kira-kira 8 (delapan) orang memulai melancarkan aksi pada Februari 1998, dan menegaskan bahwa negara ini butuh reformasi politik. Puncaknya, pada Mei 1998, semakin banyak mahasiswa bersama warga Solo yang menuntut diberlakukannya reformasi. Saat itu kebebasan demokrasi harus sangat diperjuangkan. Pada tanggal 14 sampai 20 Mei mulai ada letupan-letupan, pembakaran-pembakaran di Solo, kemudian Soeharto mundur,” paparnya.

Narasumber lain, Zaenal Muttaqien yang merupakan alumnus UNS, menyampaikan kejadian setelah Presiden Soeharto menyatakan mundur. “Setelah tanggal 21 Mei,  dipasang spanduk di Boulevard yang bertuliskan UNS : Untuk Ngadili Soeharto,” ungkapnya.

Pada pemberhentian di titik kedua yaitu Purwosari,  Achmad Ramdhon menjelaskan situasi yang terjadi di Solo kala itu. “Di Solo, penjajah Belanda telah memilah-milah  tata kelola kota berdasarkan identifikasi etnis, semisal Pecinan di Pasar Gedhe dan etnis Arab di Pasar Kliwon. Kerusakan yang terjadi kala itu akibat peristiwa demontrasi menuntut reformasi terjadi cukup parah di Solo 1998,” jelasnya. 



Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa di Purwosari dulunya merupakan pusat perbelanjaan Super Ekonomi (SE) yang dibakar pada 13 Mei 1998 bersamaan dengan kerusuhan yang terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia. “Banyak mayat yang tidak dikenali di sini menjadi korban kebakaran pusat perbelanjaan SE,” ungkapnya.

Titik selanjutnya adalah Pusat Grosir Solo dan Balai Kota Solo. Kedua lokasi ini cukup berdekatan, karenanya rombongan dikumpulkan di depan Balai Kota Solo. Ramdhon dan Zaenal kemudian menceritakan situasi yang terjadi di sana pada tahun 1998 lalu. “Tanggal 18 s.d. 19 Mei 1998, kelompok massa yang sangat besar, datang dari berbagai kampus di Solo bercampur dengan massa dari berbagai lapisan masyarakat,  berkumpul di depan Balai Kota untuk berdemonstrasi. Para demonstran memaksa ketua DPRD Solo untuk membacakan maklumat reformasi.  Pada saat yang bersamaan, situasi yang sama terjadi di  Gedung DPR/MPR,” papar Ramdhon.

Berikutnya adalah Pemakaman Purwoloyo di Jebres. Pemakaman Purwoloyo juga menjadi bagian dari Reformasi 1998 karena di tempat ini terdapat kuburan massal para korban yang tidak dapat diketahui identitasnya dan menjadi tempat peristirahatan para korban penculikan 1998. Salah satu korban penculikan yang dimakamkan di sini adalah Alm. Gilang yang mayatnya ditemukan di hutan Magetan Gunung Lawu. 

Ramdhon menjelaskan bahwa pada Pemakaman Purwoloyo juga terdapat makam “X”. “Pada makam X itu korban yang dimakamkan adalah korban-korban yang terbakar dan tidak dapat dikenali karena hanya tersisa tulang belulang,” jelasnya.

Selesai melaksanakan Napak Tilas Jalur Reformasi 1998 di Solo, semua peserta dikumpulkan untuk melaksanakan debrief dan menulis refleksi Napak Tilas Jalur Reformasi 1998. Seluruh peserta dibagi dalam 2 (dua) kelompok. Setelah menuntaskan tulisannya, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil refleksi dari kelompoknya masing-masing.

Debrief dan menulis Refleksi Napak Tilas Jalur Reformasi 1998 dipandu oleh Nancy Sunarno (fasilitator), Achmad Ramdhon, dan Andi Setiawan yang merupakan Dosen UNS Solo. Aliya, salah seorang mahasiswa yang mengikuti proses napak tilas ini menyampaikan kesan dan pesannya. “Napak tilas ini sangat menambah wawasan dan menambah semangat saya untuk menjalani aktivitas sehari-hari dimana para pejuang jaman dulu semangatnya sangat patut untuk dicontoh,”ungkapnya.

Naufal, mahasiswa Sosiologi FISIP UNS, menyampaikan harapannya melalui kegiatan ini. "Napak tilas ini merupakan salah satu acara yang perlu didukung oleh semua elemen karena melalui napak tilas ini ruang waktu kita selama 20 tahun menjadi seakan-akan dekat dengan kita," jelasnya.

Ketika ditanyakan kontribusi apa yang bisa ia berikan pasca mengikuti kegiatan ini, ia menegaskan akan membantu kampanye mengenai hak asasi manusia. "Kami akan mendorong kampanye mengenai HAM melalui media sosial seperti instagram, twitter dan facebook," tukasnya.  (Utari)

Short link